Kamis, 07 Desember 2017

Sistem Kemasyarakatan, Pemerintahan, Filsafat dan Kepercayaan Pada Masa HIndu Buddha di Indonesia

A.    Sistem Kemasyarakatan
   
Menurut ajaran Hinduisme di India, dalam masyarakat terdapat tingkat-tongkat golongan yang bersifat hirachisvertikal. Masing-masing golongan (kasta) satu sama lain tidak ada hubungan  sosial secara demokratis, sehingga satu sama lain tidak merupakan golongan (kasta)  yang menutup diri terhadap yang lainnya. 
Sistem kasta ini membagi masyarakat dalam beberapa tingkatan sosial, yakni:
1.      Brahmana yang berperan sebagai penasehat raja dan pendidik agama.
2.      Ksatria yang terdiri atas penyelenggara dan penata pemerintahan serta pembela kerajaan (raja, pembantu raja, tentara).
3.      Waisya yang berperan sebagai pedagang, pengrajin, petani, nelayan, dan pelaku seni.
4.      Sudra yang terdiri atas pekerja rendah, buruh, budak, pembantu.
Sementara itu, dalam kerajaan Buddhis pengkastaan tak terlalu berperan karena ajaran Buddha tidak mengenal pengkastaan. Dalam hal ini, masyarakat Buddhis lebih demokratis dan egalitis. Maka dari itu, sistem feodal lebih berkembang di kerajaan-kerajaan bercorak Hindu.

B.     Sistem Pemerintahan 
    Raja adalah titisan dewa dengan kerajaannya sebagai miniatur (mikrokosmos) dari alam semesta (makrokosmos) yang diperintah oleh dewa. Pada sistem pemerintahan Kerjaan Majapahit, Raja  dibantu oleh Bhatara  Saptaprabhu atau Dewan  Pertimbangan Kerajaan.
1.      Daerah-daerah taklukan  diperintah oleh kerabat Raja.
2.      Terdapat dua corak birokrasi kerajaan:
·         Maritim : Sriwijaya
·         Agraris  : Majapahit, Mataram, Kediri

C.     Filsafat dan sistem kepercayaan
Kepercayaan asli bangsa Indonesia adalah animisme dan dinamisme. Percaya adanya kehidupan sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Kehidupan roh halus memiliki kekuatan maka roh nenek moyang dipuja. Masuknya pengaruh India tidak menyebabkan pemujaan terhadap roh nenek moyang hilang. Hal ini dapat dilihat pada fungsi candi. Fungsi candi di India sebagai tempat pemujaan. Di Indonesia, selain sebagai tempat pemujaan, candi juga berfungsi sebagai makam raja dan untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah wafat.
Dapat terlihat adanya pripih tempat untuk menyimpan abu jenazah, dan diatasnya didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa. Hal tersebut merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dengan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahmana. Kalimat Brahmana dalam bahasa Hindu lama (sansekerts) yaitu nama bagi Tuhan yang wujud dengan sendirinya, Maha Esa dan Maha Kuasa yang bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir, yang menciptakan dan menjadi asal dari sekalian alam; Ia tidak dapat diraba dengan pancaindra tetapi hanya diketahui dengan akal.
Brahmana, itu Tuhan yang tunggsal dalam agama Hindu. Tetapi beberapa abad di belakang. Penganut agama Hindu telah merobsah kepercayaan bertuhan satu itu (monotheisme), kepada trimurti atau bertuhan tiga.
Trimurti itu terdiri dari: Brahmana, Wisynu dan Syiwa.  Ahli-ahli penyelidik sejarah asgama Hindu banyak ayang berpendapat, bahwa lemungkinana benar agama Hindu ini asalmya Samawy, agama langit yang berasal dari pengajaran Tuhan Pencipta semesta alam, melihat ajaranya yang asli kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar